Wednesday, January 25, 2012

Kisah Sri Sultan Hamengkubuwono IX ditilang Polisi

Kisah ini sudah pernah ditampilkan pada berbagai situs website, tapi karena ceritanya sungguh menarik, sayang jika tidak di-share ke lebih banyak orang. Semoga menggugah hati banyak orang. (Demi kenyamanan membaca, tulisan yang aslinya sangat panjang ini kami persingkat dengan tak mengurangi maknanya).

Suatu pagi di pertengahan tahun 1960-an pada pukul setengah enam pagi, polisi muda Royadin yang berpangkat brigadir polisi, sudah berdiri dengan gagah di tepi posnya di kawasan Soko. Dari arah yang berlawanan dengan arus kendaraan lainnya, tampak sebuah sedan hitam berplat AB. Brigadir Royadin memandang di kejauhan, sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju ke arahnya. Dengan sigap, ia menyeberang jalan di tepi posnya. Tangannya diayunkan ke depan untuk menghentikan laju sedan hitam itu. Sedan tahun 50-an itu berhenti di hadapannya.

Saat mobil menepi, Brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan memberi hormat. "Selamat pagi! Boleh ditunjukkan rebuwes!" Pada masa itu, surat mobil masih diistilahkan rebuwes.

Perlahan, pria di dalam sedan menurunkan kaca samping secara penuh. "Ada apa, pak polisi?" tanya pria itu. Brigadir Royadin tersentak kaget. Ia mengenali siapa pria itu. "Ya Allah... Sinuwun!" kejutnya dalam hati. Gugup bukan main, tapi itu hanya berlangsung sedetik. Naluri polisinya tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna. "Bapak melanggar verboden, tidak boleh lewat sini, ini satu arah!" Ia memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Yogya, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Setelah melihat rebuwes, Brigadir Royadin mempersilakan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan, namun Sri Sultan menolak.

"Ya... saya salah. Kamu benar, saya pasti salah!" Sinuwun turun dari sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggenggam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa. "Jadi...?" Sinuwun bertanya. Pertanyaan singkat, namun sulit bagi Brigadir Royadin untuk menjawabnya.

"Em... emm... Bapak saya tilang, mohon maaf!" Brigadir Royadin heran, Sinuwun tak juga memakai kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi dengannya. Jangankan begitu, mengenalkan dirinya sebagai pejabat negara dan raja pun, beliau tidak melakukannya.

"Baik... Brigadir, kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya. Saya harus segera ke Tegal!" Sinuwun meminta Brigadir Royadin untuk segera membuatkan surat tilang.

http://m.andriewongso.com/artikel/aw_corner/4803/Reaksi_Sultan_HB_IX_Saat_Ditilang/#.Tx7Q_CxI-Co.facebook

Friday, December 9, 2011

Pernikahan (1)

Statistik Pernikahan

Statistik tdk bisa berbohong. Di singapore, tingkat perceraian naik dari 4.298 tahun 1995 menjadi 5.160 pada tahun 2000 dan di tahun 2008 menjadi 7.220. Artinya 20 pernikahan berantakan tiap hari, kota2 dunia seperti Shanghai, New York, Mumbai, Seoul, Jakarta, dll, mhadapi tantangan2 serupa bahkan lebih besar lagi. Angka ini hanya mengacu pd perceraian yang sah. Sebuah survei oleh LSM singapore, 2/3 pasangan2 yg menikah tinggal bersama demi penampilan, demi uang, demi anak2 meskipun suami atau istri mereka berselingkuh, meskipun 1/3 di antaranya tetap tdk pernah bahagia dan anak2 menderita depresi sbg akibatnya. Setelah anak2 dewasa/pergi kuliah/kerja/menikah, mereka akan membawa suami/istri mrka ke pengadilan dan cepat2 menceraikan mereka. Pasangan yg bercerai justru pasangan2 senior, seperti di Jepang tahun 1975, 6.510 pasangan bercerai setelah 20 thn lebih mrka menikah, dan tahun 2002 menjadi 45.536 pasangan yg bercerai.

Nilai yang menyimpang adalah masyarakt kita menempatkan nilai terlalu tinggi untuk uang. Cinta uang dan materialisme merupakan dua sisi mata uang yang sama.
Identitas diri kita hampir selalu sinonim dgn pekerjaan dan uang yang dihasilkan. Itulah sebabnya para ortu (tmsk saya) ingin anak2 menjadi banker, lawyer, doctor, engineer, bukan saja krn pekerjaan itu bergengsi, melainkan jg krn menghasilkan uang yang paling banyak. Masyarakat mengukur kita bdk. kontribusi ekonomi kita, demikian pula keluarga dan teman2 sebaya kita.

Perhatikan baik-baik. Uang membuat dunia berputar dan salah jalan. Perburuan kita akan kebahagiaan mjd pemburuan kita akan uang. Jangan salah paham, uang itu penting, ttpi sayang sekali bagi sebagian besar kita telah menjadikannya sbg prioritas tertinggi. Kita membawa perspektif ini dalam RELASI pernikahan, di mana setiap pasangan ingin menghasilkan lebih banyak dan lebih banyak lagi uang utk mbeli rumah lbh nyaman, peralatan yang bagus, liburan ke tempat wisata tereksotis setiap tahun, dsb.

Dan kita ingin mendapatkannya sesegera mungkin, bukan?? Kita bekerja susah payah, lembur, memperoleh lebih banyak uang lembur, mengambil dua pekerjaan spy dpt memenuhi kebutuhan kita. Sebagai akibatnya, kita mengorbankan RELASI. Uang di dlm krisis ini mjd test situasi genting di dlm relasi kita. Uang tdk mmutuskan relasi. Cinta kita pada uanglah yang memutuskan relasi pernikahan itu, jadi tidak mengherankan pd akhirnya jika kita tdk menyediakan wktu bagi pasangan2 kita, atau pasangan2 kita tdk menyediakan waktu bagi kita.

Fakta di Singapore (jg di Jakarta saya pikir), melaporkan tekanan pekerjaan utk mencapai target kerja yang fantastis "berhasil" mencipatakan kekacauan luar biasa dalam keseimbangan hidup pekerjaan-pernikahan.

Pasangan2 yang keduanya mencari nafkah memiliki lebih sedikit waktu utk saling berbagi, sehingga utk menciptakan ketegangan-ketegangan pernikahan, dan meningkatkan tingkat resiko perceraian sah maupun sembunyi-sembunyi.

Kita menjadi tidak begitu begitu sering berhubungan dan jarang melakukan hal-hal bersama contohnya untuk bersenang-senang. Kita tdk menyediakan waktu / berusaha melakukannya. Sungguh ironis, setelah menikah kita menjadi lebih sulit utk saling bersikap lebih manis ketimbang sebelum menikah; kurang sopan, kurang manis, kurang memaafkan, kurang meminta maaf, dan kurang bersyukur, di mana kita tdk lagi menunjukkan perhatian yg penuh kasih.

"Jangan pernah bekerja hanya utk uang dan kekuasaan, mereka tdk akan menyelamatkan jiwa Anda / mbuat Anda tertidur lelap pada malam hari" Marian Wright Edelman.

"Rantai-rantai tdk memersatukan pernikahan. Tetapi benang-benang. Ratusan ribu benang haluslah yang menjahit orang-orang bersama-sama selama bertahun-tahun". Simone Signoret

(Diambil dari Renungan "Dimsum utk Keluarga", John Ng, published in Singapore)

Sunday, October 30, 2011

Emosian bangeeet yaa...

Saat seorang laki2 sedang memoles mobil barunya, anaknya yg berumur 3 tahun membaret2 mobilnya dng batu. Dengan marah, laki2 tsb meraih tangan anaknya dan memukulnya berkali2; tanpa menyadari dia memukulnya dng kunci inggris.

Singkatnya, di rumah sakit, anak itu harus kehilangan jari2nya karena kerusakan tulang yg sangat parah.

Saat anak tsb melihat ayahnya, dng pandangan kesakitan, bertanya, "Ayah, akankah jari2ku tumbuh lagi?" Lelaki tsb,yg adalah ayahnya, sangat terluka, menyesal dan kehilangan kata2 ... ia kembali ke mobilnya lalu menendangnya berkali2 melampiaskan penyesalannya. Hatinya semakin hancur ketika dia berdiri tepat di hadapan mobilnya, ia melihat baret2 yg dilakukan anaknya di mobilnya tertulis;

"AKU CINTA AYAH!"

Teman - teman,

MARAH & CINTA tidak ada batasnya; pilihlah CINTA u/ mendapatkan hidup yg indah...

BENDA adalah sesuatu yg mestinya DIGUNAKAN & MANUSIA yg mestinya DICINTAI.

Masalahnya dalam dunia postmodern dan instant saat ini; MANUSIA lah yg "DIGUNAKAN" & BENDA-BENDALAH yg kamu CINTAI...!

Mulai saat ini, marilah lebih hati2 mengingatkan diri kita bahwa: BENDA utk DIGUNAKAN & MANUSIA yg mestinya DICINTAI, ini Perintah !

Hidup hanya sekejap, maka seharusnya kamu belajar dan tahu untuk :

Hati2 dng PIKIRAN2mu, karena akan menjadi KATA2mu.

Hati2 dng KATA2mu, karena akan menjadi TINDAKAN2mu.

Hati2 dng TINDAKAN2mu, karena akan menjadi KEBIASAAN2mu.

Hati2 dng KEBIASAAN2mu, karena akan menjadi KARAKTERmu.

Hati2 dng KARAKTERmu, karena akan menjadi TAKDIRmu.

Jika tidak hati2 TAKDIRmu berakhir menyedihkan...

Mari, jadikan HIDUP kita lebih berarti bagi orangtua, keluarga, dan komunitas mu !

If a Child Lives with Critism

IF A CHILD LIVES WITH CRITICISM
*Author Unknown*

If children live with criticism, they learn to condemn
If children live with hostility, they learn to fight
If children live with fear, they learn to be apprehensive
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves
If children live with ridicule, they learn to be shy
If children live with jealousy, they learn what envy is
If children live with shame, they learn to feel guilty
If children live with tolerance, they learn to be patient
If children live with encouragement, they learn to be confident
If children live with praise, they learn to appreciate
If children live with approval, they learn to like themselves
If children live with acceptance, they learn to find love in the world
If children live with recognition, they learn to have a goal
If children live with sharing, they learn to be generous
If children live with honesty and fairness, they learn what truth and
justice are
If children live with security, they learn to have faith in themselves
and in those around them
If children live with friendliness, they learn that the world is a
nice place in which to live
If children live with serenity, they learn to have peace of mind.

What are your children living with?

Tiga Hal yang Terutama

Tiga hal yang terutama :

3 hal berbahaya yg dapat menghancurkanmu (jika kamu mau lakukan): Kemarahan, Kesombongan, Keserakahan.

3 hal yang menjadikanmu berharga : Komitmen, Rendah Hati (bukan minder/ rendah diri !) , dan Kejujuran.

3 Hal yang membuatmu menjadi dewasa : Kesabaran, Ketulusan, Rasa Bersyukur

3 hal yang tidak pernah kembali padamu : Waktu, Perkataan-perkataan yang terucap, dan Kesempatan-kesempatan.

3 Hal yang tidak akan dilupakan : Cinta, Kejujuran dan Persahabatan.

3 hal tidak boleh hilang dari hati dan pikiranmu : Kasih, Sukacita dan Damai Sejahtera.

3 hal tidak pernah kekal (kecuali jika kamu memuja-mujanya) : Harta, Jabatan dan cinta manusia.

3 Hal yang membuatmu lebih kuat : Iman, pengharapan dan kasih.

Saturday, September 3, 2011

Berteman baik dengan Atasan! Kenapa tidak??

Berteman Baik dengan Atasan? Kenapa Tidak??
Post on 18-Jul-11
by DKS

Bagi sebagian orang Indonesia, atasan ibarat sebuah suara jauh yang tidak dapat disentuh. Kita hanya bisa mendengar apa yang diperintahkan, tanpa bisa mengenal lebih jauh siapa atasan kita. Entah karena warisan penjajahan Belanda atau tidak, tapi masyarakat kita masih cenderung menganut feodalisme dalam dunia kerja.

Padahal dalam dunia kerja modern, semua posisi sebenarnya memiliki kesetaraan. Yang membedakan atasan dengan bawahan hanyalah tugas dan tanggung jawab mereka. Pada dasarnya, dalam suatu organisasi, semua posisi saling membutuhkan. Seperti sebuah tubuh, mereka yang berada di posisi atas, berfungsi sebagai kepala yang bekerja menjadi pusat komando dan pemimpin untuk kaki dan tangan. Tanpa kaki dan tangan, tubuh tidak bisa melakukan aktifitas dengan baik. Begitu pula sebaliknya, tanpa kepala, kaki dan tangan tidak bisa melakukan apa-apa.

Untuk itu, dalam membangun sinergi tim yang baik, ada baiknya kita sebagai karyawan, bisa membangun hubungan baik antar rekan kerja. Tidak hanya kepada sesama karyawan, tapi juga kepada atasan kita. Lalu, bagaimana caranya supaya kita bisa berteman baik dengan atasan kita tanpa harus memberikan kesan "penjilat" atau "gila jabatan"? Berikut ini ada beberapa cara simple untuk membuka hubungan yang baik dengan atasan :

1. Memberikan Souvenir
Jika kita sedang melakukan tugas luar kota, atau sedang liburan ke luar negeri, sebaiknya jangan lupa memberikan sekedar cinderamata untuk atasan anda. Tentunya tidak lupa memberikan cinderamata yang sama kepada rekan kerja yang lain, agar tidak timbul kecemburuan sosial dan pikiran negatif.

2. Berempati dan Bersimpati
Atasan kita juga manusia biasa, tentunya memiliki cobaan yang sulit untuk dihadapai seperti kehilangan anggota keluarga atau sebagainya. Cobalah untuk sedikit menunjukan rasa empati anda kepada atasan anda. Tentunya dengan hati yang tulus tanpa berharap mendapat imbalan.

3. Mengundang atasan dalam beberapa acara kita.
Di luar jam kantor, tentunya kita semua adalah sama. Untuk itu, jika kita sedang mengadakan acara, alangkah baiknya kalau kita juga mengundang atasan kita secara pribadi untuk sekedar menjalin hubungan.

Itulah beberapa tips kerja dari kami, semoga bisa bermanfaat untuk anda.

http://id.jobsdb.com/ID/EN/Resources/JobSeekerArticle/after%20work?ID=558