Tuesday, June 16, 2009

Mengapa Pria Senang Wet Kisses?

Wet kisses yang dilancarkannya dapat dijelaskan secara ilmiah.

KOMPAS.com - Anda pernah mengalami si dia mencium dengan begitu berantakan, sehingga seluruh wajah Anda "basah kuyup" dibuatnya? Ternyata ada penjelasan biologis mengenai hal ini.

Sejumlah eksplorasi mengenai sesi ciuman, menyebutkan bahwa berciuman menyebabkan pelepasan hormon oxytocin dan kortisol, yang menciptakan perasaan dekat dan rileks. Kini para ilmuwan mulai mempertimbangkan bahwa hormon testosteron dalam air liur lah yang menyebabkan pasangan ingin segera menyingkap pakaian dan bergegas ke sesi bercinta.

Betul, testosteron lah yang harus disalahkan dalam hal ini.

Helen Fisher, anthropolog dari Rutgers University, mengatakan bahwa testosteron dalam liur adalah penyebab pria senang mengulum bibir pasangannya dengan acak-acakan. Secara tidak sadar mereka sebenarnya sedang mencoba untuk mentransfer testosteron yang selanjutnya mendorong gairah seks pada pasangannya.

Anda perlu hati-hati jika si dia mulai melancarkan serangan wet kisses seperti ini. Tanpa Anda sadari, Anda segera terperangkap di dalam jebakan Batman-nya ini, dan bahasa tubuh Anda langsung memberikan sinyal bahwa Anda mengharapkan "sesi" selanjutnya. Namun, ada pula wanita yang tak cukup peka dengan ciuman seperti ini, dan malah merasa jijik dengan atraksi pasangannya.

Oleh karena itu, Fisher melanjutkan, melalui ciumannya ini pria juga sedang menilai apakah wanita tersebut cukup "hot" di atas ranjang atau tidak. Sebaiknya, wanita yang tidak menyukai gaya berciuman yang melibatkan banyak liur ini kemungkinan besar justru akan kehilangan gairah dan tak mau melanjutkan hubungan lagi.

Dalam suatu jajak pendapat yang dibuatnya, tambah Fisher, hampir 60 persen pria dan 70 persen wanita yang mengatakan ciuman pertama yang "basah" seperti ini mengancam hubungan selanjutnya.

Bagaimana dengan Anda?


DIN
Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2009/06/13/20353854/mengapa.pria.senang.wet.kisses

OVERCAUTION IS AS BAD AS NO CAUTION. IT MAKES OTHER PEOPLE SUSPICIOUS.

If you expect others to have confidence in you, you must conduct yourself in a way that inspires trust. Being so cautious that you never try anything new will damage your credibility just as much as will throwing all caution to the winds and trying any idea that comes along without thinking it through. (Most people equate any kind of extreme behavior with poor judgment.) But don’t fall victim to "analysis paralysis." Learn to separate facts from opinions and make sure your decisions-and your subsequent actions-are based on reliable information. Then take action!

Buku Harian seorang Suami (Read This!)

Nice story, patut dicontoh nih buat ketahanan Rumah Tangga :)

Sharing dari milis sebelah, semoga memberikan inspirasi bagi hubungan relasi Anda. Seringkali kan kita menyepelekan komunikasi, atau menganggap komunikasi ya sebatas say hi, bla bla bla.. Selamat membaca, dan menerapkannya

Ayah dan ibu telah menikah lebih dari 30 tahun, saya sama sekali tidak pernah melihat mereka bertengkar.

Di dalam hati saya, perkawinan ayah dan ibu ini selalu menjadi teladan bagi saya, juga selalu berusaha keras agar diri saya bisa menjadi seorang pria yang baik, seorang suami yang baik seperti ayah saya. Namun harapan tinggallah harapan, sementara penerapannya
sangatlah sulit.

Tak lama setelah menikah, saya dan istri mulai sering bertengkar hanya akibat hal - hal kecil dalam rumah tangga. Malam minggu pulang ke kampung halaman, saya tidak kuasa menahan diri hingga menuturkan segala keluhan tersebut pada ayah.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun ayah mendengarkan segala keluhan saya, dan setelah beliau berdiri dan masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, ayah mengusung keluar belasan buku catatan dan ditumpuknya begitu saja di hadapan saya. Sebagian besar buku
tersebut halamannya telah menguning, kelihatannya buku? buku tersebut telah disimpan selama puluhan tahun.

Ayah saya tidak banyak mengenyam pendidikan, apa bisa beliau menulis buku harian? Dengan penuh rasa ingin tahu saya mengambil salah satu dari buku-buku itu. Tulisannya memang adalah tulisan tangan ayah, agak miring dan sangat aneh sekali, ada yang sangat jelas, ada juga yang semrawut, bahkan ada yang tulisannya sampai menembus beberapa halaman kertas. Saya segera tertarik dengan hal tersebut, mulailah saya baca Dengan seksama halaman demi halaman isi buku itu.

Semuanya merupaka catatan hal ? hal sepele, "Suhu udara mulai berubah menjadi dingin, ia sudah mulai merajut baju wol untuk saya."

"Anak - anak terlalu berisik, untung ada dia."

Sedikit demi sedikit tercatat, semua itu adalah catatan mengenai berbagai macam kebaikan dan cinta ibu kepada ayah, mengenai cinta ibu terhadap anak? anak dan terhadap keluarga ini.. Dalam sekejap saya sudah membaca habis beberapa buku, arus hangat mengalir di dalam
hati saya, mata saya berlinang air mata. Saya mengangkat kepala, dengan penuh rasa haru saya berkata pada ayah "Ayah, saya sangat mengagumi ayah dan ibu."

Ayah menggelengkan kepalanyadan berkata, "Tidak perlu kagum, kamu juga bisa."

Ayah berkata lagi, "Menjadi suami istri selama puluhan tahun lamanya, tidakmungkin sama sekali tidak terjadi pertengkaran dan benturan"

Intinya adalah harus bisa belajar untuk saling pengertian dan toleran. Setiap orang memiliki masa emosional, ibumu terkadang kalau sedang kesal, juga suka mencari gara - gara, melampiaskan kemarahannya pada ayah, mengomel. Waktu itu saya bersembunyi di depan rumah, di dalam buku catatan saya tuliskan segala hal yang telah ibumu lakukan demi rumah tangga ini. Sering kali dalam hati saya penuh dengan amarah waktu menulis kertasnya sobek akibat tembus oleh pena. Tapi saya masih saja terus menulis satu demi satu kebaikannya, saya renungkan bolak balik dan akhirnya emosinya juga tidak ada lagi,yang tinggal semuanya adalah kebaikan dari ibumu."

Dengan terpesona saya mendengarkannya. Lalu saya bertanya pada ayah, "Ayah, apakah ibuku pernah melihat catatan-catatan ini?"

Ayah hanya tertawa dan berkata, "Ibumu juga memiliki buku catatan. Dalam buku catatannya itu semua isinya adalah tentang kebaikan diriku. Kadang kala dimalam hari,menjelang tidur, kami saling bertukar buku catatan, dan saling menertawakan pihak lain. ha. ha.
ha."

Memandang wajah ayah yang dipenuhi senyuman dan setumpuk buku catatan yang berada di atas meja, tiba - tiba saya sadar akan rahasia dari suatu pernikahan :

"Cinta itu sebenarnya sangat sederhana, ingat dan catat kebaikan dari orang lain.. Lupakan segala kesalahan dari pihak lain."

Tuhan Memberkati.

Rgrds,
Felix