Saturday, July 2, 2011

Tiap Hari Adalah Istimewa

By Ann Wells (Los AngelesTimes)

Kakak iparku membuka laci lemari pakaian kakakku yang paling bawah,
lalu mengambil sesuatu terbungkus tissue putih dan
mengulurkannya kepadaku sambil berkata: "Ini pakaian dalam yang
sangat spesial."

Kubuka bungkusan itu, dan kutemukan sebuah pakaian dalam yang
sangat menawan, lembut, terbuat dari sutera, disulam tangan, dengan
tali sangat lembut. Tag harga masih tertempel, dengan kode-kode
penjualannya yang rumit.

"Jane membelinya 8 atau 9 tahun yang lalu, dan belum pernah
memakainya.Katanya ia ingin memakainya untuk suatu kesempatan yang
sangat istimewa.Yah, rasanya inilah hari yang istimewa itu," kata
kakak iparku lemah.

Ia mengambil pakaian dalam itu dari tanganku, dan meletakkannya
di tas tempat tidur, bersama dengan pakaian lainnya yang kami
persiapkan untuk dibawa ke rumah duka.

Ia memegang pakaian dalam itu sejenak, dan dengan tiba-tiba ia
menutup laci tersebut keras-keras sambil berkata keras padaku:
"Jangan pernah menyimpan sesuatu yang istimewa untuk kesempatan
istimewa. Hidupmu tiap hari adalah istimewa."

Aku terus ingat kata-kata tersebut sepanjang upacara pemakaman
dan hari-hari sesudahnya. Saya membantu dia dan keponakan-keponakan
saya untuk melewati hari-hari berkabung setelah kematian kakakku
yang mendadak. Aku juga terus memikirkan mereka sepanjang
penerbanganku kembali ke Californiadari kotaMidwestern di mana
kakakku tinggal. Aku juga memikirkan hal-hal yang belum sempat
didengar, dilihat atau dikerjakan oleh almarhum kakakku.

Aku juga memikirkan hal-hal yang sudah ia kerjakan tanpa menyadari
Bahwa hal-hal tersebut sungguh sangat spesial. Aku terus
memikirkan kata-kata kakak iparku, dan sepertinya kata-kata yang ia
ucapkan saat hatinya penuh duka tersebut telah mengubah hidupku.
Mendadak sepertinya aku telah membaca sedemikian banyak buku tetang
kehidupan.

Aku lalu memandang ke luar jendela dan menikmati pemandangan udara
yang indah, tanpa pusing lagi memikirkan bagaimana kebun kesayanganku
yang telah kutinggal pergi beberapa hari.

Sesampai di rumahku sendiri,aku lalu menyempatkan diri untuk lebih
Banyak berkumpul dengan keluargaku dan teman-temanku, dan
langsung mengurangi kegiatan rapat-rapatku. Apabila diperlukan,
hidup ini semestinya dipenuhi pola-pola untuk pengalaman tentang
kenikmatan, dan bukan pertahanan serta beban. Sekarang saya mencoba
untuk memperhitungkan waktu dengan lebih teliti dan mensyukurinya.

Aku tidak "menyimpan" sesuatu. Kami bahkan menggunakan chinawares
(piring-piring buatan cina) dan koleksi kristal kami setiap hari,
tanpa menunggu ada pesta, ada tamu atau lainnya.

Ketika kami kehilangan uang, ketika kran air bocor, ketika bunga
camelia kami mekar, adalah saat-saat yang kami istimewakan.

Saya pergi ke pasar memakai pakaian yang indah, jika memang sedang
ingin. Semua kami lakukan tanpa rasa sayang yang berlebihan terhadap
barang-barang tersebut. Teorinya, kalau saya kelihatan lebih
berada daripada orang-orang di sekitarku, saya juga akan menjadi
tidak pelit terhadap diriku sendiri.

Saya tidak hanya memakai parfum kalau pergi ke pesta.

Pelayan di toko bangunan, tukang sayur di pasar, teller di bank,
dan teman-temanku di pesta, memiliki hidung yang berfungsi sama.
Kata-kata "suatu hari kelak" ataupun "hari-hari ini", mempunyai
makna yang sama bagi saya. Jika ada hal-hal yang layak didengar,
ditonton, dibaca atau dikerjakan, saya akan berusaha mendengar,
menonton, membaca atau mengerjakannya sekarang juga.

Saya tidak tahu apa kira-kira yang akan almarhum kakakku apabila ia
tahu bahwa keesokan harinya ("besok" adalah kata-kata yang tidak
pernah kita bayangkan akan tidak terjadi) ia sudah tidak akan ada
lagi di dunia ini. Mungkin ia akan menelpon seluruh keluarganya dan
beberapa teman dekatnya, mungkin ia akan menelpon teman-teman
lamanya dan meminta maaf akan kesalahan-kesalahan yang ia lakukan
di masa lalu. Saya bahkan juga membayangkan bahwa ia justru akan
pergi ke sebuah restoran cina yang sangat ia sukai.

Tapi semua itu hanya perkiraanku saja. Kita tidak pernah tahu.

Hal-hal tersebut pasti akan membuat aku marah bila belum dapat saya
lakukan padahal saya tidak memiliki waktu lagi. Marah karena selama
ini saya selalu menunda pertemuan-pertemuan dengan teman-teman baik
saya, meskipun Saya sangat ingin berjumpa dengan mereka.

Marah, karena selama ini saya jarang membalas surat-surat yang
saya terima. Marah dan menyesal karena selama ini saya jarang
sekali mengatakan pada isteri dan anak-anakku, betapa Saya
menyayangi mereka. Kini saya selalu mengusahakan untuk tidak menunda
atau menahan hal-hal yang sekiranya akan menambah keceriaan,
kesulitan atau kesedihan dalam hidup ini. membuat saya tertawa.

Dan setiap pagi, begitu saya membuka mata, saya katakan pada diri
saya sendiri, bahwa hari itu adalah hari yang spesial. Setiap hari,
setiap menit, setiap nafas, adalah benar-benar anugerah yang indah
dari Tuhan.

Jika anda menerima mail ini, pasti karena ada orang yang peduli dan
Sayang kepada anda. Jika anda selama ini terlalu sibuk, cobalah
berhenti sejenak.

Sempatkan beberapa menit saja memikirkan orang-orang yang dekat di
hati anda, teman-teman yang telah memberikan warna pada hidup
anda, guru, pembimbing, siapapun. Kalau perlu, forward email ini
kepada mereka, just to show that you care.

"Good friends must always hold hands, but true friends do not need to
hold hands because they know the other hand will always be there."

No comments: