Friday, August 19, 2011

Jalan Menuju SUKSES

JALAN MENUJU SUKSES
Agustus 16th, 2011 oleh ieznhamoetz
Gagal Itu Penting
Kegagalan menjadi teman akrab dalam kehidupan kita .Adakah orang yang tidak pernah satu kalipun mengalami kegagalan dalam hidup? Bisa di pastikan tidak ada seorang pun.
Beragam sikap muncul dalam menghadapi kegagalan. Banyak mantra semangat yang disampaikan untuk menghibur kawan yang gagal bahwa dari kesuksesan. Kalimat semangat seperti itu sering kita sampaikan dengan ketulusan, kalimat tersebut diperlukan hanya sekedar untuk menghibur diri.
Sebenarnya, apa yang dilakukan tidaklah sia-sia. Memiliki perbendaharaan kalimat semangat dan pandangan positif tentang kegagalan merupakan benteng kokoh untuk menghadapi serangan virus kegagalan dalam hidup.
Sejarah menunjukkan ribuan bukti kesuksesan seseorang banyak tokoh dunia sukses bukan karena mereka tidak pernah gagal, melainkan karena mereka tahu bagaimana mereka harus merespons, berfikir, bertindak dan menyikapi dengan jiwa seorang pemenang.
Jatuh bangun adalah proses biasa dalam meraih kesuksesan, untuk sampai di puncak gunung, seseoarang harus mendaki. Namun, tidak sedikit orang yang tenggelam dalam perasaan gagal serta menyalahkan diri dan semua yang ada dihadapannya atas semua yang dialaminya.
Janganlah kita hanya bermimpi untuk mendapatkan sesuatu yang di cita citakan. Jika bercita-cita mendapatkan prestasi yang tinggi kita harus belajar dengan tekun untuk meraihnya. Janganlah hanya berbekal semangat untuk mendapatkan semua itu.
Kegagalan itu penting jika kita memiliki persepsi dan sikap yang tepat mengenai kegagalan, banyak orang berfikir bahwa orang-orang sukses adalah mereka yang selalu berhasil dalam setiap usahanya dua orang yang mengalami kegagalan tidak mungkin meraih keberhasilan.

2.2 Optimis Terhadap Masa Depan
Orang yang selalu berpandangan positif lebih mampu dalam mengatasi berbagai masalah dibandingkan dengan orang yang selalu memiliki pandangan negative. Itu sebabnya orang yang selalu punya pikiran negative rentan terhadap berbagai penyakit.
Ketika kita menghadapi masalah besar atau krisis, kita dapat memilh untuk tetap bersikaf optimis. Milikilah keyakinan bahwa badai pasti berlalu keadaan akan menjadi lebih baik, dan persoalan akan terselesaikan. Kita bisa melihat kesulitan bukan sebagai batu sandungan yang menjatuhkan, melainkan sebagai batu loncatan yang bisa membuat kita naik atau sebagai ujian yang bisa membuat kita lebih bijak. Optimisme bagaikan nyala api yang menemani kita berjalan di kegelapan malam.
Gali potensi raih prestasi, begitulah kata pepatah. Sudahkah kamu menemukan potensi dirimu sebagai sarana meraih prestasi? Menemukan potensi diri merupakan bagian dari ungkapan syukur kepada Tuhan. Tuhan telah memberikan modal yang luar biasa mahalnya untuk menciptakan kemaslahatan. Modal itu adalah dibekali-Nya potensi diri setiap manusia sejak lahir. Apabila kita menyerah dengan keadaan, berarti kita telah menyia-nyiakan nikmat Tuhan. Mensyukuri nikmat Tuhan yang paling baik adalah dengan mengoptimalkan nikmat itu sehingga membuahkan manfaat. Semakin besar manfaat itu dirasakan orang, semakin besar pula Tuhan menambah nikmat-Nya. Dengan demikian, mengoptimalkan potensi diri ini merupakan wujud pengamalan Pancasila, terutama sila Ketuhanan Yang Maha Esa.
Ketika kita telah menemukan potensi diri dan mampu mendaya gunakan sehingga nama bangsa menjadi terkenal, pada saat itu sekaligus kita mengamalkan sila Persatuan Indonesia. Hal ini terjadi karena prestasi diri yang melejitkan nama bangsa itu hanya diketahui oleh negara lain sebagai prestasi bangsa Indonesia. Dengan demikian kita dapat memahami hakekat persatuan kebangsaan kita, bangsa Indonesia. Bangsa lain tidak akan memandang asal daerah kita, agama kita, atau ras kesukuan kita, tetapi melihat prestasi gemilang itu sebagai prestasi Indonesia. Lihatlah, prestasi telah merekatkan persatuan Indonesia sempurna. Kamu akan menemukan kebanggaan yang hakiki. Sebab kebanggaan kamu karena prestasi itu, memberi manfaat kepada bangsa dan negara.
Menemukan potensi diri memang bukan hal yang mudah, namun demikian, kesulitan itu bukan berarti tidak bisa. Sebab, setiap orang pada dasarnya memiliki potensi. Kesungguhan dan keseriusan akan mempercepat kita menemukan potensi itu. Lihatlah bagaimana riwayat Einstein yang memiliki prestasi keilmuan tertinggi itu. Ketika Einstein memasuki sekolah dasar hanya dikenal sebagai siswa yang bodoh. Nilai ulangannya selalu jelek, bahkan Einstein tidak bisa lulus sekolah, tetapi Einstein tidak menyerah. Kegagalannya memasuki perguruan tinggi memunculkan keseriusan dan kesungguhannya untuk terus belajar. Sehingga, ketika ia telah menemukan potensinya, bahwa dirinya memiliki keahlian mata pelajaran fisika, akhirnya dunia mengakui Einstein sebagai ilmuwan terbesar sepanjang masa. Dengan prestasinya itu, Amerika Serikat sebagai negara tempat tinggalnya menjadi terkenal.

2.3 Jadikan Hari Ini Lebih Baik
Seperti yang dikatakan James Stowers, pendiri Amerika century instrument, “jika Anda tidak yakin bahwa hari esok akan lebih baik, mengapa anda bangun pagi? Anda harus percaya bahwa setiap hari baru akan menjadi lebih baik dari sebelumnya dan anda harus berusaha untuk menjadikannya demikian. Keyakinan anda akan menjadikannya yang terbaik jauh lebih baik”.
Sebuah hadist Rasulallah SAW menerangkan bahwa barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, merugilah dia, dan barang siapa yang hari ini lebih jelek dari hari kemarin, celakalah dia. Oleh karena itu, satu-satunya pilihan adalah hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, demikian seterusnya.

2.4 Bagaimana Cara Kita Menyikapi Kegagalan
Kegagalan tidak berhak merenggut motivasi dan semangat kita untuk berkarya. Kegagalan dapat dilihat sebagai salah satu jalan yang mendekatkan diri kita pada keberhasilan. Masih banyak cerita orang-orang sukses yang berhasil bangkit kembali dari kegagalan. Jadi siapa bilang kegagalan itu berarti kiamat? Kegagalan itu justru penting agar kita semangat. Jadi janganlah berputus asa terlbih dahulu, karena seperti yang dikatakan oleh para ilmuwan yaitu “kesuksesan adalah kegagalan yang tertunda”.
Ada beberapa hal dalam diri ( potensi ) yang harus lebih diperhatikan antara lain :
1. Memiliki idealisme
Sebagai generasi muda kita harus memiliki ide yang kita yakini kebenarannya dengan didukung fakta dan berusaha untuk mewujudkannya dalam tujuan hidup kita.
2. Dinamis dan kreatif
Sifat dinamis dan kreatif dalam arti selalu berkembang mengikuti perkembangan jaman tanpa berhenti untuk berkreasi dalam mencapai tujuan tanpa mengabaikan norma-norma yang ada dalam kehidupan sehari-hari, baik norma agama, norma hukum, norma kesusilaan dan norma kesopanan.
3. Keberanian mengambil resiko
Setiap tindakan yang dilakukan bukan tanpa resiko, karena jika ada sebab pasti akan ada akibat. Untuk itu sebelum bertindak harus selalu mempertimbangkan masak-masak resiko yang akan timbul dan berusaha menghadapi serta mengatasinya dengan baik.
4. Optimis dan kegairahan semangat
Manusia yang hidup di era globalisasi sekarang ini tidak boleh pesimis, maka sebagai bagian dari dunia seseorang harus selalu optimis dan memiliki kegairahan semangat supaya tidak putus asa dan lemah sebelum bertanding. Para pahlawan telah berjuang merebut kemerdekaan Indonesia tetapi kita yang harus mempertahankan dan mengisinya melalui karya yang positif. Bangsa yang maju adalah bangsa yang rakyatnya mau bekerja keras, ulet dan tangguh dalam mewujudkan sebuah prestasi. Sebab perlu diingat bahwa Tuhan sendiri tidak akan mengubah kondisi suatu bangsa jika bangsa tersebut tidak mau berubah.
5. Kemandirian dan disiplin murni
Kita adalah bagian dari bangsa yang mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri dan memiliki disiplin yang tinggi. Pendidikan disiplin bukan hanya sekedar patuh terhadap aturan tetapi juga harus terwujud dalam bentuk pengakuan terhadap hak dan keinginan orang lain, serta mau mengambil bagian dalam memikul tanggung jawab sosial secara manusiawi.
6. Fisik yang kuat dan sehat
Apa artinya jiwa yang meledak-ledak penuh semangat dengan berbagai ide jika tidak ditunjang oleh fisik yang kuat dan sehat? Tentu tidak akan ada artinya. Untuk itu potensi diri yang positif harus memperhatikan masalah yang satu ini karena sangat penting peranannya. Ingatkah kalian dengan pepatah: “Di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat (mensana in corpore sano)?” Nah potensi diri yang positif adalah yang menjaga kekuatan dan kesehatan fisik.
7. Sikap ksatria
Ksatria adalah sikap yang sportif yaitu berani mengakui kesalahan dan kekalahan jika mengalaminya, serta bersedia meminta maaf untuk tidak mengulangi lagi perbuatan. Dalam falsafah masyarakat Jawa, seseorang baru pantas bergelar ksatria jika dia dapat “menang tanpa mengalahkan, kemudian mengalahkan tanpa merendahkan dan menyerang tanpa menyakiti”.
8. Terampil dalam menerapkan IPTEK
Melalui pendidikan dan pelatihan para siswa diharapkan dapat melatih keterampilannya dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di sekolah. Jika memungkinkan dapat diperdalam di luar sekolah, sehingga menjadi generasi muda yang tidak gagap teknologi, dan mampu bersaing dengan bangsa lain di dunia. Setelah itu mereka diharapkan dapat menerapkan IPTEK dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dengan mengikuti lomba komputer daerah atau nasional.
Ini merupakan peran serta yang baik dari masyarakat dalam menunjang potensi diri siswa dalam berprestasi sehingga terampil dalam menerapkan IPTEK.
9. Kompetitif
Di tengah persaingan dunia seperti sekarang ini setiap individu harus mampu menunjukkan kelebihan dirinya, diantaranya dengan berkompetisi dengan bangsa lainnya. Kompetisi berasal dari bahasa Latin to competere yang kalau di Inggriskan menjadi to seek together (mencari bersama), to agree (menyetujui) atau to coincide (menyepakati bersama). Sebenarnya dalam berkompetisi tidak diternukan adanya ajaran yang menjadikan orang lain sebagai objek atau musuh. Jadi kompetitlf adalah orang lain dijadikan sebagai mitra dalam mencapai suatu prestasi.
Masalah yang rnuncul jangan sampai kata kompetisi menjadi konkurensi (to conquer defeat/overcome enemy) mengalahkan orang lain atau musuh. (Oleh karena hasil yang dicapai bukan lagi kemenangan (winning) melainkan memukul mundur (beating). Selain itu jika kompetisi mensyaratkan adanya kompetensi atau keahlian, maka dalam konkurensi akan ada komparasi, gaya hidup membandingkan secara tidak sehat, dan praktik konkurensi adalah produk muatan pikiran irrasional yang bertentangan dengan logika hidup rasional. Bersaing itu sehat karena ada acuan, akan mendorong terciptanya energi dan akan dapat memacu prestasi diri seseorang, asal jangan menghalalkan segala cara, dan harus selalu ingat dosa dan Tuhan selalu mengawasi perilaku umatnya. Jika harus bersaing seharusnya dimulai dengan langkah sebagai berikut :
a. Berani memulai
b. Fokus pada keunggulan
c. Transformasi energi konkurensi
Maksudnya seseorang jika hendak bersaing harus mempersiapkan ke tiga hal di atas yaitu berani memulai tidak menunda, kemudian memfokuskan pada keunggulan yang dimiliki serta yang tidak kalah pentingnya adalah mengubah energi persaingan yang bersifat negatif menjadi sesuatu yang positif, supaya terjadi persaingan yang sehat dan mencapai hasil yang optimal.
10. Daya pikir yang kuat
Untuk mencapai keberhasilan, seseorang harus memiliki daya pikir yang kuat dan didukung dengan motivasi yang kuat pula dalam dirinya. Karena hal ini merupakan penggerak untuk melakukan aktivitas, sebagaimana yang dikemukakan oleh Descartes “Aku berfikir maka aku ada”. Jika orang mempunyai kemampuan dan kemauan untuk berpikir dengan kuat maka dia akan mampu berprestasi dengan baik.
11. Memiliki bakat
Seseorang yang memiliki bakat yaitu mempunyai potensi yang dimilikinya sungguh beruntung karena akan mudah dalam mewujudkan prestasi dirinya. Untuk itu perlu dukungan dari keluarga dan lingkungan. Bakat yang besar tadi harus didukung dengan motivasi yang kuat dari dalam dirinya. Seorang pemimpin yang hebat selain bisa dipersiapkan melalui pendidikan dan pelatihan akan lebih hebat jika dia memiliki bakat terpendam sebagai potensi dirinya.
Dalam upaya mengembangkan potensi diri ada 4 tahapan yang perlu diperhatikan, antara lain :
a. Mengenali diri sendiri
b. Memposisikan diri
c. Mendobrak diri
d. Aktualisasi diri

2.5 Meraih dan Menikmati Sukses
Meraih dan menikmati kesuksesan ibarat 2 sisi mata uang. Ke 2 sisinya tidak bisa dipisahkan tanpa usaha dan perjuangan meraih sebuah kesuksesan. Oleh karena itu banyak kesuksesan yang diwariskan tidak dapat bertahan lama. Namun ingat, perjuangan terus menerus tanpa menikmati sebuah kesuksesan adalah sesuatu yang menyedihkan.
Harold Kushner, seorang filosof religius tersohor mengatakan dalam bukunya yang berjudul “Melimpah Namun Gersang”, bahwa sukses bukanlah sukses jika membuat kita menderita. Kenyatannya, banyak orang mencapai kesuksesan, tetapi tidak mampu menikmatinya, itulah dilema besar manusia kontemporer (pada masa kini).
Di satu sisi, kita dipacu untuk semakin keras berusaha, yaitu dalam belajar dan meraih sukses. Akan tetapi di sisi lain, jika tidak disadari, kita bisa lupa untuk menikmati dan mengecap kebahagiaan yang menyertainya. Agar terhindar dari jebakan sukses seperti ini.
Cobalah untuk duduk santai, merenung, mensyukuri kesuksesan yang sudah kita raih dan ucapkan terima kasih kepada Sang Maha Kuasa. Rasakan hembusan nafas kita yang setia menemani kita meraih sukses. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, jika tidak bahagia????

http://ieznhamoetz.blogdetik.com/2011/08/16/jalan-menuju-sukses/?query-string

No comments: