Monday, August 22, 2011

Financial Habits (Kebiasaan Keuangan)

Financial Habits (Kebiasaan Keuangan)
Dikemukakan di berbagai buku bahwa kebiasaan kita yang telah dilakukan terus-menerus akan menjadi karakter kepribadian kita. Orang yang baik keuangannya bisa dibilang adalah orang yang terbiasa dengan memanajemen keuangannya dengan baik. Karena itu kita dianjurkan menjalani kebiasaan keuangan yang baik tersebut.

Kebiasaan Keuangan yang baik seperti :

1. Menabung
Hanya dengan menabung kita menjadi tenteram kehidupan kita. Kita nyaman karena pengeluaran kedepan sudah ada di tabungan. Menabung adalah tangga menuju ke kemakmuran kita.

2. Cerdas berbelanja
Cerdas berbelanja yaitu menghindari belanja berlebihan, berbelanja sesuai dengan kebutuhan dan budget. Dengan Cerdas berbelanja kita dapat menabung lebih banyak sehingga ada cukup dana berlebih untuk berinvestasi.

3. Mencatat pengeluaran pemasukan
Mencatat pengeluaran adalah suatu metode untuk kita agar mudah mengendalikan pengeluaran kita. Kita dapat mudah melihat bagaimana pengeluaran kita pada suatu hari. Dengan pencatatan kita dapat melihat lebih detil setiap perputaran keuangan dan memperbaiki kebiasaan keuangan yang kurang baik.

4. Menghindari hutang
Hutang terutama hutang konsumtif dapat merugikan kita karena bunga hutang sangat memberatkan kita. Bunga kartu-kredit yang sering kita pakai berbelanja misal sebesar 3 % perbulan saja jika disetahunkan menjadi berbunga 36%. Bunga itu lebih tinggi daripada deposito bahkan investasi di pasar modal. Hutang ini harus dikendalikan untuk mewujudkan kondisi finansial yang baik.

5. Mengendalikan pengeluaran
Berbagai cara bisa dilakukan dengan mencatat pengeluaran. Sebagai contoh dengan sistem amplop sehingga kita tidak sembarangan dan disiplin memakai dana di mesin atm, kita dipaksa memakai dana di amplop pada sistem tersebut.

6. Menjaga keamanan finansial keluarga
Bisa dilakukan dengan menerapkan pembelian asuransi seperti asuransi jiwa serta asuransi kesehatan. Asuransi jiwa berfungsi melindungi keluarga dari kehilangan nafkah sumber penghasilan seseorang yang menjadi tumpuan keluarga jika dia meninggal dunia. Asuransi kesehatan berfungsi sebagai perencanaan resiko karena sakit dan pengganti nafkah karena pemberi nafkah tidak bisa bekerja saat sakit.

7. Berinvestasi
Berinvestasi ada berbagai macam cara bisa dengan membeli emas logam mulia, menabung di deposito, membeli reksadana dan saham. Komponen Investasi tersebut memiliki berbagai kelebihan dan kekurangan serta resiko, sehingga tergantung daripada profil kita sebagai investor.

Dengan menerapkan kebiasaan-kebiasaan tersebut semoga kita dapat menuju kebiasaan finansial yang baik dan kita dapat menjadi pribadi yang lebih positif.

Article by: Arief Bachtiar,SKom, RPP®

Menyampaikan BAD NEWS kepada Tim Anda

Menyampaikan the Bad News Kepada Karyawan Anda

Siapapun bisa melihat kalau keadaan ekonomi dunia yang belum juga stabil di tahun ini sedikit banyak memberikan pengaruh untuk pertumbuhan dan perkembangan ekonomi dalam negeri. Sampai dengan Januari 2009 sendiri, diperkirakan ada sekitar 20 juta pengangguran di seluruh dunia (ILO). Sementara di Indonesia sendiri jumlah pengangguran akan meningkat sebanyak 8.87% akibat krisis global ini.
Lay off atau pemutusan hubungan kerja seringkali jadi salah satu langkah strategi yang harus dilakukan perusahaan untuk tetap bertahan di dunia bisnis. Beberapa orang harus ´pergi´ demi efisiensi agar perusahaan tetap bisa hidup. Hal ini mungkin terjadi juga di perusahaan tempat Anda bekerja. Manajemen memutuskan beberapa orang bawahan Anda terpaksa harus ´dirumahkan´ akibat produktifitas yang tidak mencapai target dan pasar yang sedang tidak ´sehat´.

Sebagai atasan karyawan tersebut, Andalah yang pertama kali menyampaikan berita ini kepada mereka, sebelum langkah selanjutnya di lakukan oleh manajemen. Memang tidak ada cara yang baik untuk menyampaikan berita buruk. Namun sebagai leader yang sudah sepantasnya juga berperan sebagai good communicator, ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk meminimalkan dampak buruk akibat hal ini, sehingga walaupun mereka merasa kecewa karena telah mengalami pemutusan hubungan kerja, kekecewaan mereka tidak bertambah dengan cara manajemen dan Anda melakukan hal tersebut.

1. Pilihlah waktu yang tepat untuk menyampaikan berita ini.
Umumnya karyawan sudah bisa "mencium" kabar buruk yang akan disampaikan kepada mereka. Anda bisa menyampaikan berita ini pada akhir jam kerja ketika si karyawan sudah menyelesaikan pekerjaannya dan ketika kantor mulai sepi. Atau Anda juga bisa menyampaikan berita ini ketika jam kerja baru dimulai sehingga karyawan yang bersangkutan bisa membereskan beberapa pekerjaannya sebelum ia pergi.

2. Sampaikan berita tersebut dengan personal.
Panggilah karyawan satu-persatu walaupun manajemen memutuskan hubungan kerja dengan beberapa orang karyawan Anda. Keadaan ini akan memudahkan Anda untuk melihat reaksi karyawan yang bersangkutan sehingga penanganannya akan situasional.

3. Berikan penjelasan yang jujur dan jelas
Jangan menutupi hal yang sebenarnya terjadi. Jelaskan posisi perusahaan yang sesungguhnya, namun jangan memberikan informasi terlalu mendetail mengenai keadaan perusahaan yang menurut manajemen merupakan informasi classified. Hal terpenting adalah membuat mereka mengetahui dan memahami alasan diambilnya langkah pemutusan hubungan kerja tersebut.

4. Berikan kesempatan untuk bertanya.
Sebelum Anda menyampaikan berita ini, buatlah daftar pertanyaan yang mungkin ditanyakan dan berikan jawaban dengan cara yang tidak defensif. Sampaikan jawaban dengan penuh rasa empati dan simpati, bahwa Anda mengerti situasi yang merekasedang hadapi. Dua kata magic seperti "maaf" dan "terima kasih" adalah kata-kata yang harus Anda gunakan ketika menyampaikan berita ini.

5. Berikan hak mereka.
Untuk memudahkan masa transisi dan meringankan beban mereka, pastikan bahwa perusahaan memberikan hak mereka secara utuh sebagai karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja seperti uang pesangon yang proporsional dan benefit lainnya.

6. No public shaming.
Dengan cara apapun jangan mempermalukan karyawan yang mengalami pemutusan kerja, misalnya dengan membersihkan mejanya segera setelah berita tersebut disampaikan, langsung memutus akses telefon, atau mematikan komputernya sebelum yang bersangkutan kembali untuk membereskan mejanya. Jika hal tersebut memang prosedur yang harus dilakukan, berilah kelonggaran sedikit karena hal ini bisa mempermalukan si karyawan di depan rekan kerjanya.

Pemutusan hubungan kerja yang tidak dilakukan dengan benar dan cermat akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Karyawan yang merasa dirugikan bukan tidak mungkin menuntut perusahaan Anda sehingga masalah ini menjadi berlarut-larut. Karena itulah jangan pernah mengira bahwa masalah ini tidak perlu mendapatkan perhatian lebih dari manajemen dan Anda sebagai pemimpin karyawan tersebut.
Remember! :
Staf Anda juga manusia, punya rasa, punya hati, jangan samakan dengan mesin produksi. So be persuasive mendekati karyawan Anda.

Perkuat Posisi di Masa Sulit

Perkuat Posisi di Masa Sulit
Dari hari ke hari, kita tak pernah dibuat lupa soal resesi yang sekarang ini tengah berlangsung. Media kian sering menjadikannya sebagai headline, lalu muncullah kekhawatiran itu: Apakah karier saya akan terpengaruh karenanya? Saat dihadapi dengan kemungkinan hilangnya pekerjaan, Anda punya dua pilihan. Entah itu membiarkan karier Anda dibayang-bayangi oleh rasa khawatir yang berlebihan atau justru memilih untuk menghadapi situasi tersebut dengan melakukan sesuatu untuk menghindarinya. Berikut beberapa sikap profesional yang perlu Anda rangkul agar untuk mempertahankan posisi Anda di perusahaan, bahkan menjadikan situasi buruk ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan karier dalam jangka panjang.

Tingkatkan Eksistensi
Begitu kemungkinan pemutusan hubungan kerja ada di depan mata, bisa jadi insting pertama Anda adalah diam atau bahkan “bersembunyi” dan berharap bila tidak terlalu menonjol, nama Anda tidak akan masuk dalam daftar kandidat yang akan di-PHK. Ini adalah taktik yang salah. Lagipula siapa sih yang lebih dipilih oleh perusahaan untuk diberhentikan? Karyawan yang dengan jelas-jelas menunjukkan bahwa ia telah melakukan beberapa hal penting untuk memberikan kontribusi kepada perusahaan atau si-siapa-namanya-itu yang seringkali membenamkan diri di kubikel dan sulit ditemukan saat hendak dimintai bantuan? Ya, Anda pasti tahu jawabannya. Jadi, hadiri semua rapat yang diselenggarakan dan berpartisipasilah dalam ajang kantor. Hal ini akan menunjukkan semangat tinggi Anda yang tetap terjaga, komitmen senantiasa dijalani dan juga membuktikan Anda pemain tim yang baik. Jangan lupa pula untuk menjaga hubungan baik dengan atasan. Bukan berarti menjadi penjilat, melainkan secara rutin memastikan atasan tahu bahwa Anda ada di kantor untuk membantunya dan perusahaan melewati masa-masa sulit.

Jadi Relawan Untuk Kerja Tambahan
Berkurangnya staf dijamin membuat beberapa proyek atau tugas jadi terlantar. Ini adalah kesempatan bagi Anda untuk mengajukan diri dan menciptakan kesan profesional yang baik. Sikap inisiatif untuk mengerjakan tugas tambahan ini akan menunjukkan kesediaan Anda untuk berusaha maksimal dalam membantu perusahaan selama masa-masa krisis. Bisa dipastikan bos akan mengingat kontribusi tersebut dan memberikan penghargaan yang pantas atas usaha Anda saat kondisi membaik. Bukan hanya itu, keahlian kerja juga meluas karenanya dan menjadikan Anda lebih bernilai.
Kembangkan Sikap Positif
Sekarang ini bukanlah saatnya untuk mengeluh soal berkurangnya kualitas beberapa fasilitas di kantor atau menurunnya uang saku perjalanan dinas. Kesengsaraan memang senang mencari teman dan orang-orang dengan sikap negatif akan memikat pribadi-pribadi negatif pula. Percaya atau tidak, pemikiran yang merugikan ini bisa menular. Bahkan, sikap buruk ini adalah salah satu sifat yang tak diinginkan perusahaan dari karyawan mereka. Intinya, semua pihak harus melakukan beberapa pengorbanan selama periode kekacauan finansial seperti ini. Ketimbang mengeluh, tetaplah bersemangat dan berikan kontribusi positif. Bisa jadi perusahaan akan melihat Anda sebagai "hikmah" dari sebuah musibah.

Jadi Pemain Tim
Wajar untuk serta-merta mengutamakan keselamatan sendiri saat dihadapi kemungkinan terburuk soal karier. Namun sikap egois ini tak akan memberikan Anda nilai tambah dari manajemen atau kolega yang lain. Kerjasama dan komunikasi sangatlah vital di masa-masa sulit. Jadi, jangan buat situasi jadi tambah buruk dengan menghindari partisipasi dalam gosip dalam bentuk apapun, terutama soal siapa yang berikutnya akan kena PHK. Tindakan tersebut hanya akan mencoreng sikap profesional yang selama ini telah Anda bangun, dan jangan dikira perusahaan tidak akan mengetahui aksi mempertahankan posisi yang kurang terpuji tersebut. Lebih baik, tunjukkan loyalitas Anda kepada perusahaan beserta karyawan-karyawan mereka lewat komunikasi formal dan informal di dalam tim.

Buat Diri Anda Tak Tergantikan
Tak perlu jadi jenius untuk tahu bahwa karyawan yang andal dalam multitasking dan bersedia menangani beberapa peran sekaligus sangatlah berharga buat perusahaan. Semakin besar Anda dijadikan tumpuan oleh perusahaan, semakin berkuranglah kemungkinan mereka membiarkan Anda pergi. Dan walaupun menjadi yang tak tergantikan seperti ini merupakan suatu posisi yang perlu dijaga setiap waktu, hal ini justru lebih penting saat masa-masa tengah kritis. Mengarahkan diri Anda ke posisi tersebut saat perusahaan tengah mengalami penurunan drastis bisa menjadi suatu modal jangka panjang. Betul sekali, alasan kuat yang bisa Anda ajukan saat meminta kenaikan gaji atau jabatan di kemudian hari.
By: Intan Iskandar
Redaktur Pelaksana Cosmopolitan Indonesia

The 10 Laws of Sales Success

Follow these rules, and selling will become one of the easiest tasks you'll undertake.
A recent Gallup poll on the honesty and ethical conduct of business professionals found that insurance salespeople and car salespeople ranked at the bottom of the list. Bet you're not surprised to hear this. But did you know that it's not just car salespeople who have a bad reputation? Bill Brooks of the Brooks Group estimates that more than 85 percent of customers have a negative view of all salespeople.
But it doesn't have to be that way: You can prove the masses wrong, and learn to develop the skills that will have people thinking differently about the selling process. In fact, selling can be one of the most rewarding tasks you'll undertake as a business owner-but only if you follow these 10 tactics:

Law #1: Keep your mouth shut and your ears open. This is crucial in the first few minutes of any sales interaction. Remember:
1. Don't talk about yourself.
2. Don't talk about your products.
3. Don't talk about your services.
4. And above all, don't recite your sales pitch!
Obviously, you want to introduce yourself. You want to tell your prospect your name and the purpose of your visit (or phone call), but what you don't want to do is ramble on about your product or service. After all, at this point, what could you possibly talk about? You have no idea if what you're offering is of any use to your prospect.

Law #2: Sell with questions, not answers. Remember this: Nobody cares how great you are until they understand how great you think they are.
Forget about trying to "sell" your product or service and focus instead on why your prospect wants to buy. To do this, you need to get fascinated with your prospect; you need to ask questions (lots and lots of them) with no hidden agenda or ulterior motives.
Many years ago, I was selling CDs at a music festival. It didn't take me long to figure out that it wasn't my job to sell the CDs-it was my job to get the earphones on every person who walked by my booth!
I noticed right away that whenever people sensed I was attempting to "sell" them a CD, their walls of defense immediately went up and they did everything in their power to get as far away from me as they could.
So instead, I made it my job to introduce new music to anyone who wanted to put on the earphones. Once they heard the music, they either liked it or they didn't. I didn't do any "selling," and I made more money that week than any other CD hawkers at the festival.
Back then, I didn't know anything about sales, but I knew enough about human nature to understand that sales resistance is an oxymoron: The act of selling creates the resistance! Which leads us to the next principle:

Law #3: Pretend you're on a first date with your prospect. Get curious about them. Ask about the products and services they're already using. Are they happy? Is what they're using now too expensive, not reliable enough, too slow? Find out what they really want. Remember, you're not conducting an impersonal survey here, so don't ask questions just for the sake of asking them. Instead, ask questions that will provide you with information about what your customers really need.
When you learn what your customers need and you stop trying to convince or persuade them to do something they may not want to do, you'll find them trusting you as a valued advisor and wanting to do more business with you as a result.

Law #4: Speak to your prospect just as you speak to your family or friends. There's never any time that you should switch into "sales mode" with ham-handed persuasion clichés and tag lines. Affected speech patterns, exaggerated tones, and slow, hypnotic sounding "sales inductions" are never acceptable in today's professional selling environments. Speak normally, (and of course, appropriately) just as you would when you're around your friends and loved ones.

Law #5: Pay close attention to what your prospect isn't saying. Is your prospect rushed? Does he or she seem agitated or upset? If so, ask "Is this a good time to talk? If it's not, perhaps we can meet another day." Most salespeople are so concerned with what they're going to say next that they forget there's another human being involved in the conversation.

Law #6: If you're asked a question, answer it briefly and then move on. Remember: This isn't about you; it's about whether you're right for them.

Law #7: Only after you've correctly assessed the needs of your prospect do you mention anything about what you're offering. I knew a guy who pitched a mannequin (I'm not kidding)! He was so stuck in his own automated, habitual mode, he never bothered to notice that his prospect wasn't breathing. Don't get caught in this trap. Know whom you're speaking with before figuring out what it is you want to say.

Law #8: Refrain from delivering a three-hour product seminar. Don't ramble on and on about things that have no bearing on anything your prospect has said. Pick a handful of things you think could help with your prospect's particular situation, and tell him or her about it. (And if possible, reiterate the benefits in his own words, not yours.)

Law #9: Ask the prospect if there are any barriers to them taking the next logical step. After having gone through the first eight steps, you should have a good understanding of your prospect's needs in relation to your product or service. Knowing this, and having established a mutual feeling of trust and rapport, you're now ready to bridge the gap between your prospect's needs and what it is you're offering. You're now ready for:

Law #10: Invite your prospect to take some kind of action. This principle obliterates the need for any "closing techniques" because the ball is placed on the prospect's court. A sales close keeps the ball in your court and all the focus on you, the salesperson. But you don't want the focus on you. You don't want the prospect to be reminded that he or she is dealing with a "salesperson." You're not a salesperson, you're a human being offering a particular product or service. And if you can get your prospect to understand that, you're well on your way to becoming an outstanding salesperson.
________________________________________
Len Foley, a renowned sales and sales management trainer, is the creator of the bestselling program "Sales Without the Sucker Punch!" Foley's technology has been used by dozens of corporations, and offers simple, cutting-edge strategies applicable to any business that sells directly to the end-user. He is also co-author of the book, Your Successful Sales Career.


http://www.entrepreneur.com/sales/tipsfromexperts/article65984.html#ixzz0L190deL7&D

Emotional Bank Account

Emotional Bank Accounts

Stephen Covey mengingatkan hal-hal yang sebenarnya kita sudah tahu, tapi mungkin kita lupa melakukannya. Ada beberapa cara menanamkan kepercayaan :

1. Mengenal Individu
Cara kuno mengenal individu adalah silaturrahmi. Silaturahmi yang tampak mata adalah berjabat tangan, membuat janji lebih sering bertemu di waktu luang, dan bisa lebih indah berkunjung kerumah, mengenal secara kekeluargaan. Lupakan cara online disini. Tidak ada emosi yang luar biasa bisa ditanamkan jika kita memulai silaturrahmi dengan cara online. Untuk itu, TDA sangat gencar mengadakan acara offline.

2. Menanamkan kesan yang baik
Ini maksudnya bukan akting, tapi betul-betul menanamkan aura selalu positif kepada orang lain. Ini bisa dimunculkan melalui hal-hal kecil, melalui pembicaraan yang ringan

3. Memenuhi komitmen
Komitmen adalah kata kunci dalam hubungan. Komitmen adalah Janji. Jika kita sudah mengeluarkan komitmen/janji, otomatis orang lain akan mengeluarkan harapan untuk bisa terpenuhi atas janji tersebut. Sekali janji dilanggar, kita telah menarik deposito rasa kepercayaan yang cukup besar. Menilai personal yang selalu mempunyai komitmen tinggi, sangat mudah dilihat dari kegiatan-kegiatan yang non profit. Jika yang non profit aja komitmennya tinggi, biasanya akan lebih komitmennya untuk kegiatan profit.

4. Komunikasi yang terbuka
Selalu mengkomunikasikan segala sesuatu secara terbuka, jujur dan apa adanya. Berbicara secara eksplisit, tanpa pernah ada itikad menyembunyikan sesuatu (implisit), apalagi politiking.

5. Memperlihatkan Intergritas Pribadi
Integritas memiliki definisi deskriptif yang luas. Integritas bisa berarti anda sesuai dengan yang anda katakan, bisa juga berarti kejujuran, bisa berarti tidak bermuka dua, memperlakukan orang lain dengan perangkat prinsip yang sama, tidak melanggar sistem nilai yang dia anut.

6. Meminta maaf, mengkomunikasikan apa yang terjadi
Jika suatu komitmen tidak terpenuhi, kepercayaan masih bisa dipertahankan jika kita bisa mengkomunikasikan apa yang terjadi dengan baik, tentunya diiringi dengan permintaan maaf dan komitmen lanjutan.

Semua diatas sebenarnya sudah kita ketahui, bukan hal baru. Namun kadang kita lupa melakukannya, sehingga banyak buku ditulis ulang untuk sekedar mengingatkan.