Berteman Baik dengan Atasan? Kenapa Tidak??
Post on 18-Jul-11
by DKS
Bagi sebagian orang Indonesia, atasan ibarat sebuah suara jauh yang tidak dapat disentuh. Kita hanya bisa mendengar apa yang diperintahkan, tanpa bisa mengenal lebih jauh siapa atasan kita. Entah karena warisan penjajahan Belanda atau tidak, tapi masyarakat kita masih cenderung menganut feodalisme dalam dunia kerja.
Padahal dalam dunia kerja modern, semua posisi sebenarnya memiliki kesetaraan. Yang membedakan atasan dengan bawahan hanyalah tugas dan tanggung jawab mereka. Pada dasarnya, dalam suatu organisasi, semua posisi saling membutuhkan. Seperti sebuah tubuh, mereka yang berada di posisi atas, berfungsi sebagai kepala yang bekerja menjadi pusat komando dan pemimpin untuk kaki dan tangan. Tanpa kaki dan tangan, tubuh tidak bisa melakukan aktifitas dengan baik. Begitu pula sebaliknya, tanpa kepala, kaki dan tangan tidak bisa melakukan apa-apa.
Untuk itu, dalam membangun sinergi tim yang baik, ada baiknya kita sebagai karyawan, bisa membangun hubungan baik antar rekan kerja. Tidak hanya kepada sesama karyawan, tapi juga kepada atasan kita. Lalu, bagaimana caranya supaya kita bisa berteman baik dengan atasan kita tanpa harus memberikan kesan "penjilat" atau "gila jabatan"? Berikut ini ada beberapa cara simple untuk membuka hubungan yang baik dengan atasan :
1. Memberikan Souvenir
Jika kita sedang melakukan tugas luar kota, atau sedang liburan ke luar negeri, sebaiknya jangan lupa memberikan sekedar cinderamata untuk atasan anda. Tentunya tidak lupa memberikan cinderamata yang sama kepada rekan kerja yang lain, agar tidak timbul kecemburuan sosial dan pikiran negatif.
2. Berempati dan Bersimpati
Atasan kita juga manusia biasa, tentunya memiliki cobaan yang sulit untuk dihadapai seperti kehilangan anggota keluarga atau sebagainya. Cobalah untuk sedikit menunjukan rasa empati anda kepada atasan anda. Tentunya dengan hati yang tulus tanpa berharap mendapat imbalan.
3. Mengundang atasan dalam beberapa acara kita.
Di luar jam kantor, tentunya kita semua adalah sama. Untuk itu, jika kita sedang mengadakan acara, alangkah baiknya kalau kita juga mengundang atasan kita secara pribadi untuk sekedar menjalin hubungan.
Itulah beberapa tips kerja dari kami, semoga bisa bermanfaat untuk anda.
http://id.jobsdb.com/ID/EN/Resources/JobSeekerArticle/after%20work?ID=558
Saturday, September 3, 2011
Menghadapi Anak Buah yang Tak Kooperatif
Menghadapi Anak Buah yang Tak Kooperatif
Post on 14-Dec-09
by Intan Iskandar
Akhirnya, Anda dapat juga posisi itu. Manager. Berarti, bisa mengarahkan subordinat untuk mengerjakan serangkaian tugas supaya tujuan perusahaan bisa dicapai. Tentu saja mereka harus melakukannya, lagipula Anda memang atasan mereka, bukan? Aaah, andaikan saja segampang itu. Sayang, perusahaan Anda tidak menggunakan prinsip militer di mana perintah dikeluarkan lantas dilakukan. Tak ada kata tapi, tak ada pertanyaan, muka marah ataupun penolakan.
Situasi di lingkungan kerja jelas berbeda. Bagian memberi perintah dan menjelaskan proses eksekusinya memang mudah. Tapi apakah mereka benar-benar menjalankan tugas tersebut sesuai yang Anda harapkan? Nah, di sini letak tantangannya. Memang, tidak semua bawahan Anda tidak kompeten. Namun di saat yang bersamaan, tidak semua tingkah laku mereka juga menguntungkan buat hasil akhir dari kerja tim. Bahkan bisa jadi ada salah satu yang bersikap seakan-akan dia tak bisa menerima perintah dari siapapun, tak juga Anda yang jelas-jelas atasannya.
Menghadapi karakter subordinat yang sulit memang bukan hal baru. Anda yang ditugaskan sebagai pihak untuk menangani tim diharapkan untuk siap menghadapinya. Namun apakah Anda telah benar-benar menangani karyawan yang tak gampang diajak bekerja sama itu? Memang tidak disarankan untuk bertindak impulsif, tapi di lain pihak Anda juga dituntut untuk bertindak cepat. Tentu saja karena taruhannya adalah kinerja tim. Semakin lama tindakan tak kooperatif itu berlangsung, semakin susah pula tindakan tersebut diubah atau berhenti. Berikut beberapa langkah yang perlu diingat setiap kali Anda sampai terbersit pertanyaan, "Sebenarnya yang bos itu siapa, sih?":
1.Hadapi Masalah. Lebih gampang memang rasanya untuk mengabaikan karyawan yang Anda rasa tidak memberikan yang terbaik untuk kesuksesan tim dengan melimpahkan tugas ke bawahan lain yang tampaknya lebih bisa diandalkan. Sama sekali bukan ide yang bagus. Ingat, hal ini justru salah satu bagian penting dalam pekerjaan Anda. Dan percayalah, masalah tersebut tidak akan terpecahkan dengan sendirinya. Bahkan bisa bertambah arah. Konfrontasi semacam ini sebenarnya sudah menjadi agenda Anda. Berikutnya, tinggal dilaksanakan.
2.Tangani Tingkah Laku, Bukan Pribadi. Tujuan Anda adalah mencapai satu solusi, bukan untuk “menang”. Jadi sebaiknya fokuskan pada tindakan-tindakan yang kurang kooperatif, tanpa perlu menyerang sang subordinat secara personal. Gunakan pernyataan-pernyataan menggunakan “Saya” seperti, “Saya butuh setiap orang di dalam tim ini untuk tepat waktu agar goal tiap akhir bulan bisa dicapai,” daripada menitikberatkan sang karyawan dengan menggunakan “Kamu” seperti, “Kamu selalu telat!” Lalu, beri kesempatan buat bawahan tersebut untuk ikut mencari jalan keluar dari masalahnya. Saat mereka juga diberi tanggungjawab untuk menghasilkan solusi, bawahan akan lebih merangkul jalan keluar tersebut saat akhirnya ditemukan.
3.Cari Penyebab. Saat mengajak diskusi dengan karyawan yang tak kooperatif, tetaplah bersikap tenang dan positif, tapi tetap adil. Lemparkan serangkaian pertanyaan kunci yang tak bisa dijawab dengan satu atau dua kata. Dan, saat Anda merespon terhadap tanggapannya, sekali lagi, berusahalah untuk menjaga emosi agar tetap tenang. Rangkum kembali kepadanya apa saja yang baru saja ia katakan, Dengan begini, ia akan mengerti bahwa Anda benar-benar mendengarkan. Jika dari diskusi tersebut Anda berhasil menemukan sumber dari tingkah lakunya yang sulit saat bekerja, berarti akan lebih besar kemungkinanya buat Anda untuk mendapatkan solusi yang paling tepat.
4.Ulangi Bila Perlu. Beberapa masalah sepele seperti telat datang ke kantor, bisa segera ditangani dengan percakapan singkat di ruangan Anda bersama sang karyawan. Namun masalah lebih berat seperti subordinat yang kerap bertindak seakan yang punya perusahaan terhadap rekan-rekannya yang lain karena memang punya kebiasaan menggertak, butuh lebih dari satu kali konfrontasi sebelum melihat perubahan. Bersabarlah. Jangan selalu mengharapkan hasil instan. Sebaliknya, usahakan untuk meraih peningkatan yang kontinu daripada ngotot meraih sukses instan.
http://id.jobsdb.com/ID/EN/Resources/JobSeekerArticle/Tak_Kooperatif?ID=43
Post on 14-Dec-09
by Intan Iskandar
Akhirnya, Anda dapat juga posisi itu. Manager. Berarti, bisa mengarahkan subordinat untuk mengerjakan serangkaian tugas supaya tujuan perusahaan bisa dicapai. Tentu saja mereka harus melakukannya, lagipula Anda memang atasan mereka, bukan? Aaah, andaikan saja segampang itu. Sayang, perusahaan Anda tidak menggunakan prinsip militer di mana perintah dikeluarkan lantas dilakukan. Tak ada kata tapi, tak ada pertanyaan, muka marah ataupun penolakan.
Situasi di lingkungan kerja jelas berbeda. Bagian memberi perintah dan menjelaskan proses eksekusinya memang mudah. Tapi apakah mereka benar-benar menjalankan tugas tersebut sesuai yang Anda harapkan? Nah, di sini letak tantangannya. Memang, tidak semua bawahan Anda tidak kompeten. Namun di saat yang bersamaan, tidak semua tingkah laku mereka juga menguntungkan buat hasil akhir dari kerja tim. Bahkan bisa jadi ada salah satu yang bersikap seakan-akan dia tak bisa menerima perintah dari siapapun, tak juga Anda yang jelas-jelas atasannya.
Menghadapi karakter subordinat yang sulit memang bukan hal baru. Anda yang ditugaskan sebagai pihak untuk menangani tim diharapkan untuk siap menghadapinya. Namun apakah Anda telah benar-benar menangani karyawan yang tak gampang diajak bekerja sama itu? Memang tidak disarankan untuk bertindak impulsif, tapi di lain pihak Anda juga dituntut untuk bertindak cepat. Tentu saja karena taruhannya adalah kinerja tim. Semakin lama tindakan tak kooperatif itu berlangsung, semakin susah pula tindakan tersebut diubah atau berhenti. Berikut beberapa langkah yang perlu diingat setiap kali Anda sampai terbersit pertanyaan, "Sebenarnya yang bos itu siapa, sih?":
1.Hadapi Masalah. Lebih gampang memang rasanya untuk mengabaikan karyawan yang Anda rasa tidak memberikan yang terbaik untuk kesuksesan tim dengan melimpahkan tugas ke bawahan lain yang tampaknya lebih bisa diandalkan. Sama sekali bukan ide yang bagus. Ingat, hal ini justru salah satu bagian penting dalam pekerjaan Anda. Dan percayalah, masalah tersebut tidak akan terpecahkan dengan sendirinya. Bahkan bisa bertambah arah. Konfrontasi semacam ini sebenarnya sudah menjadi agenda Anda. Berikutnya, tinggal dilaksanakan.
2.Tangani Tingkah Laku, Bukan Pribadi. Tujuan Anda adalah mencapai satu solusi, bukan untuk “menang”. Jadi sebaiknya fokuskan pada tindakan-tindakan yang kurang kooperatif, tanpa perlu menyerang sang subordinat secara personal. Gunakan pernyataan-pernyataan menggunakan “Saya” seperti, “Saya butuh setiap orang di dalam tim ini untuk tepat waktu agar goal tiap akhir bulan bisa dicapai,” daripada menitikberatkan sang karyawan dengan menggunakan “Kamu” seperti, “Kamu selalu telat!” Lalu, beri kesempatan buat bawahan tersebut untuk ikut mencari jalan keluar dari masalahnya. Saat mereka juga diberi tanggungjawab untuk menghasilkan solusi, bawahan akan lebih merangkul jalan keluar tersebut saat akhirnya ditemukan.
3.Cari Penyebab. Saat mengajak diskusi dengan karyawan yang tak kooperatif, tetaplah bersikap tenang dan positif, tapi tetap adil. Lemparkan serangkaian pertanyaan kunci yang tak bisa dijawab dengan satu atau dua kata. Dan, saat Anda merespon terhadap tanggapannya, sekali lagi, berusahalah untuk menjaga emosi agar tetap tenang. Rangkum kembali kepadanya apa saja yang baru saja ia katakan, Dengan begini, ia akan mengerti bahwa Anda benar-benar mendengarkan. Jika dari diskusi tersebut Anda berhasil menemukan sumber dari tingkah lakunya yang sulit saat bekerja, berarti akan lebih besar kemungkinanya buat Anda untuk mendapatkan solusi yang paling tepat.
4.Ulangi Bila Perlu. Beberapa masalah sepele seperti telat datang ke kantor, bisa segera ditangani dengan percakapan singkat di ruangan Anda bersama sang karyawan. Namun masalah lebih berat seperti subordinat yang kerap bertindak seakan yang punya perusahaan terhadap rekan-rekannya yang lain karena memang punya kebiasaan menggertak, butuh lebih dari satu kali konfrontasi sebelum melihat perubahan. Bersabarlah. Jangan selalu mengharapkan hasil instan. Sebaliknya, usahakan untuk meraih peningkatan yang kontinu daripada ngotot meraih sukses instan.
http://id.jobsdb.com/ID/EN/Resources/JobSeekerArticle/Tak_Kooperatif?ID=43
Pribadi Positifi = Meningkatkan Kinerja !
Pribadi Positif dapat Meningkatkan Kinerja
Post on 02-Mar-11
by AHW
Manusia adalah makhluk yang paling sempurna ciptaan Tuhan yang dilengkapi dengan akal dan perasaan. Pada dasarnya, "porsi" yang diberikan adalah sama besar pada masing-masing manusia. Yang membedakan hanyalah cara menyeimbangkan kedua aspek tersebut. Proses penyeimbangan itu bermula saat manusia beranjak dewasa. Dalam dunia kerja, mental manusia akan ditempa dan prosesnya akan berbeda dengan pada saat dalam jenjang pendidikan. Hasil penempaan mental itu mempunyai dampak yang berbeda pada masing-masing individu. Untuk menjalaninya, masing-masing individu harus menumbuhkan positive mental attitude atau sikap mental yang positif.
Dengan berfikir secara positif, manusia bisa menjalankan kehidupannya dengan gembira. Seluruh beban pekerjaan yang setiap hari Anda emban akan terasa jauh lebih ringan dan Anda pun akan lebih cepat menyelesaikannya. Lalu bagaimana caranya? Berikut ini beberapa tips yang bisa Anda lakukan:
Awali pagi Anda dengan senyum. Dengan memberikan aura keceriaan di pagi hari, Anda akan merasa ringan dan tidak terbebankan oleh pekerjaan. Meskipun Anda harus berkemelut dengan kemacetan, disambangi oleh deadline yang menumpuk, dan segala tuntutan atasan Anda yang tidak bisa ditawar maka buatlah diri Anda seceria mungkin.
Bayangkan sesuatu yang menyenangkan. Sugestikan diri Anda dengan hal-hal menyenangkan. Dengan memberikan sugesti diri Anda, secara perlahan Anda akan terbawa oleh sugesti Anda sendiri. Misalnya, bayangkan Anda akan mendapat uang yang banyak, atau bayangkan Anda akan bertemu orang terkasih, atau cuti panjang bersama keluarga Anda.
Senandungkan lagu kesukaan Anda. Banyak yang bilang bahwa bernyanyi dapat merubah mood. Namun, senandungkanlah lagu-lagu yang ceria, jangan sampai mood Anda rusak karena Anda bersenandung lagu sedih.
Selalu berpikir positif. Jangan biarkan sedikit pun pikiran negatif merasuki alam pikir Anda, karena menurut “law of attraction”, apa yang Anda pikirkan adalah apa yang akan Anda dapatkan. Jadi, tetaplah berpikir positif.
Lakukan semuanya dengan Ikhlas. Hal ini juga sangat menunjang Anda dalam segala bidang. Karena jika segala aktivitas Anda dilakukan dengan ikhlas, maka secara tidak langsung Anda pun akan merasa nyaman melakukannya.
Apa yang Anda lakukan adalah cerminan diri Anda sendiri. Memiliki pribadi yang baik tentunya menyenangkan unutk semua orang termasuk rekan kerja Anda. Anda akan lebih mudah mempererat hubungan kerjasama dengan klien. Orang akan lebih mudah bersimpati terhadap Anda. Suasana kerja yang kondusif akan dapat meningkatkan kinerja Anda.
http://id.jobsdb.com/ID/EN/Resources/JobSeekerArticle/Tips%20Karir?ID=457
Post on 02-Mar-11
by AHW
Manusia adalah makhluk yang paling sempurna ciptaan Tuhan yang dilengkapi dengan akal dan perasaan. Pada dasarnya, "porsi" yang diberikan adalah sama besar pada masing-masing manusia. Yang membedakan hanyalah cara menyeimbangkan kedua aspek tersebut. Proses penyeimbangan itu bermula saat manusia beranjak dewasa. Dalam dunia kerja, mental manusia akan ditempa dan prosesnya akan berbeda dengan pada saat dalam jenjang pendidikan. Hasil penempaan mental itu mempunyai dampak yang berbeda pada masing-masing individu. Untuk menjalaninya, masing-masing individu harus menumbuhkan positive mental attitude atau sikap mental yang positif.
Dengan berfikir secara positif, manusia bisa menjalankan kehidupannya dengan gembira. Seluruh beban pekerjaan yang setiap hari Anda emban akan terasa jauh lebih ringan dan Anda pun akan lebih cepat menyelesaikannya. Lalu bagaimana caranya? Berikut ini beberapa tips yang bisa Anda lakukan:
Awali pagi Anda dengan senyum. Dengan memberikan aura keceriaan di pagi hari, Anda akan merasa ringan dan tidak terbebankan oleh pekerjaan. Meskipun Anda harus berkemelut dengan kemacetan, disambangi oleh deadline yang menumpuk, dan segala tuntutan atasan Anda yang tidak bisa ditawar maka buatlah diri Anda seceria mungkin.
Bayangkan sesuatu yang menyenangkan. Sugestikan diri Anda dengan hal-hal menyenangkan. Dengan memberikan sugesti diri Anda, secara perlahan Anda akan terbawa oleh sugesti Anda sendiri. Misalnya, bayangkan Anda akan mendapat uang yang banyak, atau bayangkan Anda akan bertemu orang terkasih, atau cuti panjang bersama keluarga Anda.
Senandungkan lagu kesukaan Anda. Banyak yang bilang bahwa bernyanyi dapat merubah mood. Namun, senandungkanlah lagu-lagu yang ceria, jangan sampai mood Anda rusak karena Anda bersenandung lagu sedih.
Selalu berpikir positif. Jangan biarkan sedikit pun pikiran negatif merasuki alam pikir Anda, karena menurut “law of attraction”, apa yang Anda pikirkan adalah apa yang akan Anda dapatkan. Jadi, tetaplah berpikir positif.
Lakukan semuanya dengan Ikhlas. Hal ini juga sangat menunjang Anda dalam segala bidang. Karena jika segala aktivitas Anda dilakukan dengan ikhlas, maka secara tidak langsung Anda pun akan merasa nyaman melakukannya.
Apa yang Anda lakukan adalah cerminan diri Anda sendiri. Memiliki pribadi yang baik tentunya menyenangkan unutk semua orang termasuk rekan kerja Anda. Anda akan lebih mudah mempererat hubungan kerjasama dengan klien. Orang akan lebih mudah bersimpati terhadap Anda. Suasana kerja yang kondusif akan dapat meningkatkan kinerja Anda.
http://id.jobsdb.com/ID/EN/Resources/JobSeekerArticle/Tips%20Karir?ID=457
Subscribe to:
Posts (Atom)